
Semenjak Ibu melahirkan jasadku ke dunia, sejak itu pula, kami mengenal kehidupan. Tapi saat itu mungkin kami tak jelas memaknai kehidupan, karena bagi kami bermain bermain dan bermain adalah kehidupan kami yang paling hakiki.
Tingkat kehidupan kami berlanjut pada saat kami menemukan teman-teman sebaya kami, bermain ramai-ramai di Mall, bergejolak kawula muda bersama pacar cinta monyet kami, dan memaknai kehidupan kami sekedar fun, fun dan have fun, kami tak peduli Ibu apakah masih punya uang belanja di tengah bulan, kami tak pernah tau saat Ibu menutup muka dengan bantalnya lalu mengisak tangisnya, kami bahkan tak pernah peka setiap orang tua punya masalah yang berat dalam kehidupannya. Kami dengan mudahnya lari, dan tak pulang bermalam di rumah sahabat beralibi bahwa orang-orang tua itu tidak pernah mengerti kami.
Selanjutnya tingkat kehidupan kami beranjak lebih serius dari 2 paragraf diatas. Tingkat ini bercerita saat fase kami berkelumit dengan pekerjaan-pekerjaan rutinitas yang dimulai dari saat matahari masih malu menampakan sinarnya sampai bulan memancarkan kedamaiannya. Kami sibuk menghitung pemasukan akhir bulan yang entah kemana perginya, kami pun kembali belajar matematika dan akuntansi untuk menghitung hutang-hutang kebutuhan kami setiap bulannya, dahi kami setiap harinya terlalu banyak berkerut, kulit muka kami bahkan sudah mulai terhitung banyaknya garis-garis diantara lipatan mata kami, begitu pula rambut putih yang sudah mulai menetap di mahkota kami. Pelan-pelan kami memetakan apa yang terjadi saat orang-orang dulu di tingkatan kehidupan kami. Luar biasa !
Dan ternyata kehidupan itu sangat luas untuk kami, kami yang belum mampu menajemenkan waktu kami untuk dekat dengan orang-orang disekitar kami itu membuat kami sangat kerdil. Sang waktu yang terus berjalan dengan rotasinya, membuat kami keteteran dengan jadwal kunjungan. Dan ternyata orang-orang sekitar kami termasuk orang-orang yang memahami, betapa kami sangat kerdil dengan sang waktu.
Miris saat mata hati kami melihat sebuah realita kehidupan dimana mereka adalah orang-orang yang menghargai kehidupan ini, bersahabat dengan sang waktu, kemudian mereka bisa menjadikan tingkat kehidupan ini paling hakiki. Proses ini kami namakan sebuah kontemplasi. Jika kami-kami yang diluar sana mengintip sedikit tengtang cerita ini, kami hanya ingin berbagi bahwa kehidupan ini bukan hanya antara aku, kamu dan Dia tapi luuaaas sekali dengan Ibu, Bapak, Ibu Mertua, Bapak Mertua, Ibu Tiri, Bapak Tiri, kakak kandung, adik kandung, kakak tiri, adik tiri, kakak ipar, adik ipar, tante, om, bule, pakle, tulang, teman kantor yang sekarang, teman kantor dulu, teman kuliah, teman SMU, teman SMP, teman SD, teman TK, teman rumah dulu, teman rumah sekarang, mantan pacar cinta monyet, relasi, teman Les, teman komunitas, teman seminar, guru, dosen, keponakan, sepupu.
Apakah kamu sudah menyediakan waktumu untuk sekedar menyapa, bertandang atau silahturahmi kembali dengan mereka ?
=)



